Kelahiran Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM)
Daerah Istimewa Yogyakarta

Lahirnya Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) merupakan sebuah manifestasi dari kegelisahan intelektual dan tuntutan zaman untuk memperkokoh fondasi gerakan di jantung kelahiran persyarikatan. Narasi besar ini bermula pada paruh kedua tahun 2024, sebuah periode yang menjadi titik balik penguatan ideologi di lingkungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY.
Fase embrionik bermula pada 24 Oktober 2024. Di bawah kepemimpinan Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A. selaku Ketua PWM DIY, muncul sebuah arahan strategis yang memandang perlunya benteng ideologis yang terstruktur, khususnya bagi para pendidik Islam Muhammadiyah Bahasa Arab (ISMUBA). Momentum ini segera direspon oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) sebagai motor penggerak. Dalam semangat fastabiqul khairat, tim yang dibidani oleh Ketua MPKSDI PWM DIY, Andy Putra Wijaya, S.E.I., M.S.I., melakukan langkah historis dengan mengadakan benchmarking ke Universitas Muhammadiyah Magelang pada 7 November 2024. Kunjungan tersebut bertujuan menyerap saripati keberhasilan program Pendidikan Kader Muhammadiyah (PKMD) untuk kemudian diadaptasi ke dalam rahim gerakan di Yogyakarta.
Memasuki akhir tahun, tepatnya pada 28 November 2024, instruksi formal diturunkan untuk membentuk tim perumus kurikulum yang komprehensif. Periode transisi antara Desember 2024 hingga Februari 2025 menjadi saksi bisu rangkaian workshop intensif yang melahirkan nomenklatur resmi: Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM). Pada fase ini pula, tonggak kepemimpinan akademik mulai ditegakkan dengan ditetapkannya Dr. Hardi Santosa, M.Pd. sebagai Direktur pertama, sebuah peran krusial yang menempatkan beliau sebagai arsitek utama operasionalisasi nilai-nilai ideologis ke dalam sistem pendidikan formal.
Langkah strategis pengembangan institusi berlanjut dengan momentum Soft Launching yang sakral pada 9 Maret 2025. Bertempat di tengah suasana ruhaniah Pengajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, momen ini menjadi penanda awal diperkenalkannya program kepada jamaah dan kader secara luas. Pasca peluncuran awal tersebut, pematangan gagasan terus berlanjut melalui dialektika pemikiran yang lebih mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) pada 24 Maret 2025. Pertemuan ini melibatkan unsur Majelis Tarjih serta Majelis Dikdasmen PNF untuk membedah filosofi dan muatan kurikulum agar selaras dengan garis perjuangan persyarikatan. Sebagai tahap final dalam memvalidasi konsep, sebuah Uji Publik digelar pada 19 April 2025. Agenda ini menghadirkan para pemikir kaliber nasional seperti Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A. dan Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. untuk menguji ketangguhan kurikulum yang telah disusun, guna memastikan standar kualitas dan relevansi pendidikan bagi para kader di masa depan.
Mendekati fase implementasi, dilakukan konsolidasi internal pada 26 Juli 2025 di aula PWM DIY melalui agenda penyamaan persepsi bagi para pengajar. Pertemuan ini menghadirkan Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. sebagai pemateri guna menyelaraskan visi dan metodologi pengajaran agar searah dengan cita-cita besar persyarikatan.
Puncak dari dialektika panjang ini terejawantah pada 11 Agustus 2025. Bertempat di pusat gravitasi intelektual baru, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, dilakukan Grand Launching yang diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Kehadiran beliau memberikan legitimasi historis bahwa Sekolah Ideologi Muhammadiyah bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan upaya menjaga api perjuangan Ahmad Dahlan agar tetap menyala. Seluruh rangkaian prosesi ini dipuncaki dengan Perkuliahan Perdana pada 16 Agustus 2025 di Kampus 4 UAD, menandai dimulainya babak baru dalam sejarah perkaderan Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta.